Zuckerberg Borong Intel AI Apple, Bayarnya Mencapai Rp 2 T? Strategi Superintelligence Meta

Baru-baru ini, dunia teknologi diguncang kabar mengejutkan: Meta, di bawah komando Mark Zuckerberg, sedang melancarkan perburuan talenta AI elit. Mereka tak main-main—dengan tawaran paket kompensasi ratusan juta dolar (Rp 1–2 triliun), mereka berhasil merekrut Ruoming Pang, kepala AI model Apple, bersama dengan puluhan ilmuwan dari OpenAI, Anthropic, dan DeepMind . Ini bukan sekadar transfer tenaga kerja; ini adalah dorongan ambisius Meta untuk mendominasi era superintelligence.
Perekrutan Pang hanyalah puncak gunung es. Meta membentuk divisi baru: Meta Superintelligence Labs, dipimpin Alexandr Wang (mantan CEO Scale AI) . Tujuannya jelas: hasilkan AI yang bisa melampaui manusia. Langkah ini diikuti oleh masuknya puluhan insinyur AI papan atas dari Apple, OpenAI, Amazon-Anthropic, dan lainnya .
Keunggulan strategi ini:
- Akses langsung ke expert di dunia foundation models, memberi Meta basis riset dan inovasi AI tingkat tinggi.
- Daya staking pasar, menunjukkan keseriusan Meta dalam mengejar AGI/superintelligence, bisa naik reputasi sebagai pemain besar.
Kekurangannya:
- Biaya astronotis, bisa membebani keuangan jangka panjang.
- Risiko retensi, apakah talenta ini benar-benar bertahan dan berkontribusi atau justru pindah lagi?
Bayangkan kamu tengah membangun tim sepak bola kelas dunia. Kamu membayar raksasa gaji untuk merekrut Messi, Ronaldo, dan Mbappé sekaligus. Kedengarannya keren, tapi bagaimana chemistry dan strategi tim? ⚽
Begitu pula Meta: mereka memilih memborong talent untuk membangun divisi dream team AI. Tapi apakah mereka bisa mengubahnya menjadi kemenangan nyata (model AGI & produk sukses)? Itu tantangan sebenarnya.
Menurut saya, ini adalah langkah berani dan ambisius. Meta menyadari bahwa tanpa talenta, semua impian AGI hanyalah retorika. Merekrut Pang dan lainnya adalah sinyal kuat: mereka bukan hanya bicara, tapi bertindak nyata.
Prediksi saya:
- Akan muncul perlombaan kompensasi talenta AI—Google, OpenAI, Apple bisa merespons dengan insentif besar.
- Produk unggulan dari unit ini bisa muncul tahun 2026–2027: AI Chatbot super, AI kreatif, atau bahkan model cerdas tersembunyi yang mendukung produk Meta.
- Risiko: jika budaya internal Meta tidak mendukung, talenta bisa hengkang lagi—menyebabkan pemborosan massal.
Meta saat ini sedang berlomba di jalur tercepat menuju horizon AI: superintelligence. Mereka merekrut talenta spektakuler Apple dan OpenAI dengan bayaran selangit, sebagai investasi strategis. Namun hasil nyata akan terlihat dari konsistensi riset dan produk masa depan.
Kalau menurut kamu, apakah strategi “beli talenta kelas dunia” seperti ini bakal efektif? Atau justru akan sia-sia tanpa budaya dan ekosistem riset yang kuat? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, ya. Kita bahas bareng-bareng.