China Temukan Hal Aneh di Sampel Debu Bulan, Harusnya Tak Ada!

China Temukan Hal Aneh di Sampel Debu Bulan, Harusnya Tak Ada!
Peneliti China menemukan sesuatu yang mengejutkan pada debu yang dibawa kembali oleh misi eksplorasi Bulan Chang’e-5. Temuan itu berupa lapisan tipis karbon yan
Peneliti China menemukan sesuatu yang mengejutkan pada debu yang dibawa kembali oleh misi eksplorasi Bulan Chang’e-5. Temuan itu berupa lapisan tipis karbon yan
Sorotan
- Peneliti China menemukan sesuatu yang mengejutkan pada debu yang dibawa kembali oleh misi eksplorasi Bulan Chang’e-5. Temuan itu berupa lapisan tipis karbon yang disebut graphene atau grafena.
- Sidik jari spektral tersebut cocok dengan grafena multilapis, kisi karbon yang ditumpuk setebal dua hingga sepuluh atom. Penulis utama Wei Zhang dari Universitas Jilin mengatakan temuan ini dapat membentuk kembali gagasan tentang kelahiran Bulan dan memandu rencana sumber daya bagi kru eksplorasi di masa mendatang.
- Studi ini menandai konfirmasi pertama keberadaan grafena alami beberapa lapis dalam material Bulan, dan membuka pertanyaan baru tentang bagaimana karbon berperilaku di permukaan planet yang hampa udara.
Peneliti China menemukan sesuatu yang mengejutkan pada debu yang dibawa kembali oleh misi eksplorasi Bulan Chang’e-5. Temuan itu berupa lapisan tipis karbon yang disebut graphene atau grafena.
Sidik jari spektral tersebut cocok dengan grafena multilapis, kisi karbon yang ditumpuk setebal dua hingga sepuluh atom. Penulis utama Wei Zhang dari Universitas Jilin mengatakan temuan ini dapat membentuk kembali gagasan tentang kelahiran Bulan dan memandu rencana sumber daya bagi kru eksplorasi di masa mendatang.
Studi ini menandai konfirmasi pertama keberadaan grafena alami beberapa lapis dalam material Bulan, dan membuka pertanyaan baru tentang bagaimana karbon berperilaku di permukaan planet yang hampa udara.
Sampel Apollo tidak menunjukkan banyak karbon, sehingga para ilmuwan lama meyakini Bulan itu kering dan terbentuk dari tabrakan hebat dengan Bumi purba.
Namun gagasan itu mulai berubah pada 2020, ketika pesawat ruang angkasa Kaguya milik Jepang menemukan kebocoran karbon dari hampir setiap bagian permukaan Bulan.
Karbon membentuk kimia vulkanik dan bahan bakar potensial, sehingga mengonfirmasi keberadaannya mengubah perdebatan akademis dan perencanaan misi.
Insinyur Bulan merancang pabrik oksigen yang akan membuang karbon, tetapi kimia tanah yang lebih kaya mengundang pabrik yang mengubahnya menjadi plastik atau gas pendukung kehidupan.